|

Pemeriksaan sebaiknya dilakukan bukan saat kehamilan, namun juga sebelum kehamilan dan setelah proses kehamilan untuk mengantisipasi resiko terjadinya cacat bawaan pada bayi.
Melahirkan bayi yang sehat fisik dan mental merupakan dambaan semua. Namun, resiko cacat awaan hingga saat ini masih menjadi momok bagi ibu hamil di mana pun, terutama bagi mereka yang memiliki sejarah penyakit tertentu dalam keluarganya. menurut dr. Indra Anwar, Sp.OG dari RS Bunda Menteng, Jakarta, salah satu cara untuk menghindari atau mengantisipasi hal ini adalah dengan melakukan beberapa tes sebelum masa kehamilan. "Pemeriksaan sebelum kehamilan sangat dianjurkan bagi semua wanita yang merencanakan kehamilan. Bahkan, sebisa mungkin tes ini dilakukan sebelum mereka melangsungkan pernikahan. Hal ini untuk menghindari kemungkinan terjadinya penyakit turunan pada anak-anaknya yang makin parah jika ternyata si wanita dan si pria sama-sama menderita suatu penyakit turunan tertentu," ujarnya..
Sebelum
- Lakukan tes darah suami maupun istri, untuk mencegah terjadinya penyakit cacar darah, seperti hemofilia atau thalasemia.
- Lakukan tes penyakit yang diderita calon ibu, seperti diabetes, hipertensi, epilepsy, jantung, anemia, atau penyakit turunan lainnya.
- Lakukan tes endokrin untuk kemungkinan penyakit yang berhubungan dengan hormon dalam tubuh pada ibu karena bisa diturunkan pada anak.
- Lakukan tes infeksi Toxoplasma. Pada janin biasanya berkaitan dengan keguguran, sistem syaraf dan gejala kepala bayi kecil atau besar berair, perkapuran otak, retardasi mental dan kejang. Gejala lainnya adalah peradangan retina mata, glukoma
- Lakukan tes infeksi rubella. Selain bisa keguguran, infeksi pada trimester I bisa menyebabkan keterlambatan pertumbuhan dalam kandungan, kesulitan bernafas dan cacat bawaan fisik, juga cacat pada mata, cacat jantung dan sistem syaraf. Pada trimester ke II dan III dapat menunjukkan manifestasi ketulian, keterlambatan perkembangan intelektual dan diabetes.
- Lakukan tes resiko infeksi herpes simpleks. Keguguran, kepala bayi besar berair dan gangguan pengelihatan dikaitkan dengan infeksi herpes pada janin.
- Lakukan tes infeksi cytomegalovirus. Infeksi ini bersifat bawaan pada janin yang paling sering menyebabkan retardasi mental dan gangguan sistem syaraf termasuk ketulian.
- Lakukan tes penyakit genetik, terutama jika dalam keluarga besar pasangan terdapat lebih dari dua keturunan yang mengidap cacat bawaan akibat penyakit genetik, seperti Sindroma Down, neurofibromatosis, atau penyakit kelainan syaraf.
Sesudah
- Pada bayi yang dilahirkan, lakukan tes penyakit genetik untuk mengetahui dan mengantisipasi resiko terjadinya cacat bawaan, baik yang diderita ibu sebelum hamil atau yang terjadi pada masa kehamilan.
- Lakukan juga tes pada kelenjar endokrin anak untuk mengetahui dan mengantisipasi resiko terjadinya penyakit akibat kelainan hormon pada anak di masa depan.
- Lakukan tes untuk mengantisipasi resiko terjadinya trauma perinatal. Trauma ini terjadi pada saat bayi dalam kandungan 20 minggu sampai 28 hari paska persalinan. Trauma ini dapat menyebabkan cacat pada bayi terutama efek neuromuskuler dan retardasi mental seperti pada Cerebral Palsy (CP).
- Untuk ibu, lakukan tes kondisi penyakit yang diderita sebelum kehamilan. Hal ini perlu dilakukan untuk mengetahui kondisi keparahan penyakit, serta resiko yang akan terjadi jika terjadi kehamilan berikutnya. Tes ini juga bisa dilakukan jika terjadi gangguan pada sang ibu selama proses kehamilan seperti keracunan obat dan lain sebagainya.
Sumber : inspired kids magazine (issue 50/Juli 2009, Page 26-27)

Pregnancy Tips - Before & After (98.58 kB)
|